Senin, 19 Desember 2011

Hariini senin 15 desember 2011 bertempat di Nikko Hotel, jakarta telah berlangsung pertemuan yang bersifat informal meeting. Sesuai penuturan Suhardi Somomoeljono (shd)kepada Tim web-kkai, dalam pertemuan sifatnya tukar pikiran saja antara kedua pimpinan organisasi advokat. Memang, kata SHD lebih lanjut sempat disinggung persoalan antara PERADI dan KAI yang nyaris, tidak berujung pangkal bagaimana pada akhirnya.Namun keduanya secara pribadi sepakat Perlunya segera ada jalan keluar agar dapat keluar dari kemelut pro dan kontra, terhadap persoalan organisasi advokat yang syah dan legetimage berdasarkan undang-undang advokat nomor.18.tahun 2003.Setidaknya ada 2 cara yang mungkin akan segera disosialisasikan antara lain (1)melaksanakan kongres advokat secara nasional yang diikuti oleh para advokat secara nasional, (2)seluruh organisasi advokat melalui perwakilannya yang ditunjuk, masuk menjadi pengurus PERADI serta melakukan kongres sesuai jadwal periodisasi yang sudah ditentukan.Kedua cara tersebut menurut SHD memang dapat dilaksanakan, tetapi harus segera ada sosialisasi yang intensif.Untuk cara yang pertama,percepatan kongres baik Otto Hasibuan maupun Suhardi Somomoeljono sepakat agar sebelumnya harus ada jaminan baik dari Presiden maupun Mahkamah Agung RI untuk mengakui hasil kongres tersebut. jangan sampai setelah Kongres justru pecah lagi, dan kedua-duanya diakui oleh Pemerintah, kalau ini yang terjadi untuk apa, ada kongres advokat indonesia. kita sudah capek dengan perpecahan, kita merindukan persatuan advokat indonesia. Untuk itu lebih lanjut kata SHD dalam waktu singkat akan melakukan mobilisasi,kunjungan,silaturahmi dengan senioren advokat. Salam,Fasa Tim Web/kkai.

8 komentar:

  1. Bahwa pertemuan yang bersifat informal meeting antara Suhardi Somomoeljono (shd)dengan Otto Hasibuan (Peradi) meski pertemuan sifatnya tukar pikiran antara kedua pimpinan organisasi advokat dan nyaris tidak berujung pangkal tersebut seharusnya perlu adanya pemahaman yang sama menjadi concern atas kemelut pro dan kontra terhadap persoalan organisasi advokat yang syah dan legetimage berdasarkan undang-undang nomor: 18 tahun 2003. Sebagaimana terlihat diatas, meski disebutkan ada 2 opsi segera disosialisasikan: (1)melaksanakan kongres nasional yang diikuti oleh para advokat secara nasional, dan (2)seluruh organisasi advokat melalui perwakilannya yang ditunjuk, masuk menjadi pengurus PERADI serta melakukan kongres sesuai jadwal periodisasi yang sudah ditentukan. Kedua opsi ini perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak karena bila saja dilaksanakan meski dengan sosialisasi yang intensif, cara itu tidak sertamerta sebagai upaya percepatan kongres versi Otto Hasibuan atau Suhardi Somomoeljono tetapi perlu ada kata sepakat dari seluruh ADVOKAT yang selama ini tidak legitime menurut PERADI dan hal ini juga mesti ada jaminan baik dari Presiden maupun Mahkamah Agung RI untuk mengawasi bila terjadinya kongres serta mengakui hasil kongres tersebut. jangan sampai setelah Kongres justru perpecahan terjadi lebih parah lagi bahkan hal itu disebabkan oleh segelintir senioritas. Jadi, mohon bagi para Senior untuk juga mau melihat betapa sedihnya para junior melihat apa yang sedang terjadi.. toh ada pepatah yang dalam ini untuk mengingatkan kita: “apa yang ditabur itulah kelak yang menjadi hasil untuk di tuai”.. mari kita bersatu untuk membangun keutuhan bangsa melalui KKAI,… Merdeka!!!

    BalasHapus
  2. gagasan dari tokoh senior Advokat tersebut merupakan pengabdianya kepada dunia penegakan hukum, semoga niat suci mereka didasari rasa keikhlasan untuk membangun kesatuan advokat Indonesia lebih mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi karena organisasi advokat adalah milik para advokat bukan milim segelintir orang,dan semoga kepentingan anggota advokat di akomodir dalam wadah advokat, niscaya advokat indonesia akan lebih kuat dan maju..itulah yang menjadi dampaan para advokat indonesia.selamat berkarya.

    BalasHapus
  3. sudah saatnya...semua pihak membuka diri..agar persoalan Advokat segera selesai. cari solusi dengan hati nurani yang tulus..semata-mata demi kebesaran advokat sendiri...

    BalasHapus
  4. http://dpphapi.com/index.php?ext_menu=content02_01&ext_id_content02_01_sub01=3&ext_id_content02_01_sub00=17

    BalasHapus
  5. Rekan Suhardi Somomoeljono yth, ingatkah anda ketika menandatangani pengumuman di Harian Media Indonesia mengenai Peradi Bubar pada hari Senin tanggal 8 Juni 2009 ? Waktu itu anda mewakili DPP HAPI sebagai SekJend sedangkan Ketua Umum dijabat Drs.Jimmy B.Harianto, SH, MBA, MM. Apabila anda sudah menyatakan Peradi bubar, maka untuk apa lagi anda melakukan informal meeting dengan Peradi ??? Apa maksudnya ??? ANDA YANG IKUT MENYATAKAN PERADI BUBAR NAMUN ANDA JUGA YANG SECARA DIAM2 MENGAKUI PERADI MASIH EKSIS DENGAN MENGADAKAN INFORMAL MEETING, ANEH BIN AJAIB... KOQ BISA YA ????

    BalasHapus
  6. ha ha ha ha .... itulah akrobatiknya teman kita ini. semoga akrobatiknya tidak jadi contoh, tapi perlu juga menjadi pelajaran, kenapa ? karena suatu organisasi dikelola secara politis ya begini jadinya.saat ini bilang begini sebentar lagi boleh bilang lain lagi dan setelah itu bisa bilang yang lainnya lagi tergantung kepentingannya sudah terpenuhi atau tidak . Hmmmm apa kata dunia. kalo dua orang advokat maka pendapatnya 3. bagaimana yang berkumpul itu ribuan advokat, berapa dong jumlah opininya ? mungkinkah mereka akan bersatu dalam satu pendapat !

    BalasHapus
  7. iya ya koq bisa manusia gak punya prinsip hidup dan harga diri ya, hari ini menyatakan peradi bubar koq besok bisa mengadakan pertemuan informal dg peradi lagi, ini omongan laki-laki apa perempuan, potong aja tu burung gak usah pakai burung lagi, ketimbang jadi pecundang, apapun alasannya..... kalau banci ya kayak gini

    BalasHapus